Artikel

Memahami Kebutuhan Penyandang Disabilitas Rungu Dalam Bertransportasi

Oleh :

Prof.Ir. Leksmono Suryo Putranto, M.T.,Ph.D.
(Ketua Komisi Penelitian dan Pengembangan DTKJ)

Beberapa waktu yang lalu, sempat viral di berbagai media sosial soal “definisi baru” kursi prioritas di angkutan umum. 

Entah dengan alasan apa penyandang tuna rungu seakan-akan dikeluarkan dari salah satu kategori penumpang yang berhak menggunakannya. Secara umum disabilitas rungu memang sering dianggap lebih beruntung dibandingkan penyandang diseabilitas lain. 

Hal itu dikarenakan, secara tampilan fisik luar tidak tampak ciri disabilitasnya. Padahal justru hal ini menyebabkan, bantuan dari sekitar jarang ditawarkan. Memang penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani. Yang harus kita berikan adalah hak mereka untuk beraktivitas secara mandiri sehari-hari dengan pertolongan minimum dari pihak lain.

Mari kita awali dengan mengenali berbagai level dari gangguan pendengaran menurut WHO (2003). Manusia yang normal mampu mendengar suara yang kurang dari 25 dBHL (decibels hearing level). Kelompok ini mampu mendengar suara bisikan. Telinga yang sedikit rusak mampu mendengar 26-40 dBHL. Kelompok ini mampu mendengar dan mengulang ucapan dengan suara normal dari jarak 1m. Telinga yang cukup rusak mampu mendengar 41-60 dBHL. Kelompok ini ampu mendengar dan mengulang ucapan dengan suara yang dikeraskaan dari jarak 1m. Telinga yang rusak parah mampu mendengar 61-80dBHL. Kelompok ini mampu mendengar beberapa kata saat diteriakkan pada telinga. Telinga yang rusak sangat parah mampu mendengar lebih dari 80 dBHL. Kelompok ini tidak dapat mendengar dan mengerti walaupun dengan suara yang diteriakkan.

Berikutnya, apakah panyandang disabilitas rungu, menderitanya sejak lahir atau tidak. Jika diderita sejak lahir, maka disabilitas rungu dapat mengakibatkan hambatan pertumbuhan kemampuan komunikasi karena sulit mengasosiasikan sesuatu yang diindra oleh indera lain dengan identitas verbalnya. Penyandang disabilitas rungu semacam ini sulit memahami bacaan yang kompleks dengan perbendaharaan kata yang rumit.

Jadi apa yang dibutuhkan penyandang disabilitas rungu saaat bertransportasi mandiri? Pertama, mereka harus ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber informasi tertulis (seperti running text). Lalu mereka harus ditempatkan di tempat duduk prioritas yang memudahkan mereka mengidentifikasi posisi mereka dalam rencana perjalanan mereka. Hal lain yang sangat penting adalah tersedianya informasi kedaruratan yang dapat ditangkap dengan indera pengelihatan (misalnya dengan lampu yang berkedip-kedip). 

Jadi, masih meremehkan kebutuhan penyandang disabilitas rungu? Semoga makin banyak yang tercerahkan.